Selenium dengan Teknologi Terbaru: Integrasi dengan Framework Pengujian dan Alat CI/CD

7:55 AM Add Comment
Logo Selenium

Selenium adalah salah satu alat pengujian otomatis yang populer untuk aplikasi web dan mobile. Selenium memiliki banyak kelebihan, seperti bersifat open source, kompatibel dengan berbagai bahasa pemrograman, dan dapat dijalankan lintas platform dan browser. Namun, Selenium juga memiliki tantangan dalam mengintegrasikan dengan alat dan framework lain di pipeline CI/CD. Untuk itu, artikel ini akan membahas cara menggabungkan Selenium dengan teknologi terbaru, yaitu integrasi dengan framework pengujian dan alat CI/CD.

Framework pengujian adalah kumpulan perangkat lunak yang menyediakan struktur, metode, dan alat untuk mempermudah proses pengujian. Beberapa framework pengujian yang dapat diintegrasikan dengan Selenium adalah:

  • TestNG: TestNG adalah framework pengujian yang berbasis Java dan mendukung pengujian unit, fungsional, integrasi, dan end-to-end. TestNG dapat digunakan untuk mengelola dan menjalankan berbagai skenario pengujian dengan anotasi, prioritas, kelompok, dan dependensi. TestNG juga dapat menghasilkan laporan pengujian yang informatif dan dapat diintegrasikan dengan alat CI/CD seperti Jenkins, Maven, dan Gradle.
  • JUnit: JUnit adalah framework pengujian yang berbasis Java dan merupakan salah satu framework pengujian unit yang paling populer. JUnit dapat digunakan untuk menguji aplikasi web dengan Selenium WebDriver dan dapat mengatur siklus hidup pengujian dengan anotasi, asersi, dan aturan. JUnit juga dapat menghasilkan laporan pengujian yang mudah dibaca dan dapat diintegrasikan dengan alat CI/CD seperti Jenkins, Maven, dan Gradle.
  • PyTest: PyTest adalah framework pengujian yang berbasis Python dan mendukung pengujian unit, fungsional, integrasi, dan end-to-end. PyTest dapat digunakan untuk menguji aplikasi web dengan Selenium WebDriver dan dapat menulis skenario pengujian dengan sintaks yang sederhana dan ekspresif. PyTest juga dapat menghasilkan laporan pengujian yang rinci dan dapat diintegrasikan dengan alat CI/CD seperti Jenkins, Travis CI, dan GitLab CI.

Alat CI/CD adalah alat yang digunakan untuk memfasilitasi proses integrasi, pengiriman, dan penyebaran kode secara otomatis dan terus-menerus. Beberapa alat CI/CD yang dapat diintegrasikan dengan Selenium adalah:

  • Jenkins: Jenkins adalah alat CI/CD yang open source dan dapat digunakan untuk membangun, menguji, dan menyebarluaskan aplikasi web dengan Selenium. Jenkins dapat mengonfigurasi pipeline CI/CD dengan berbagai plugin dan dapat menjalankan skenario pengujian dengan Selenium secara paralel dan terdistribusi. Jenkins juga dapat menghasilkan laporan pengujian yang interaktif dan dapat mengirim notifikasi hasil pengujian ke tim pengembang.
  • Travis CI: Travis CI adalah alat CI/CD yang berbasis cloud dan dapat digunakan untuk membangun, menguji, dan menyebarluaskan aplikasi web dengan Selenium. Travis CI dapat mengonfigurasi pipeline CI/CD dengan berkas YAML dan dapat menjalankan skenario pengujian dengan Selenium secara paralel dan terisolasi. Travis CI juga dapat menghasilkan laporan pengujian yang ringkas dan dapat mengintegrasikan hasil pengujian dengan GitHub.
  • GitLab CI: GitLab CI adalah alat CI/CD yang berbasis cloud dan dapat digunakan untuk membangun, menguji, dan menyebarluaskan aplikasi web dengan Selenium. GitLab CI dapat mengonfigurasi pipeline CI/CD dengan berkas YAML dan dapat menjalankan skenario pengujian dengan Selenium secara paralel dan terdistribusi. GitLab CI juga dapat menghasilkan laporan pengujian yang komprehensif dan dapat mengintegrasikan hasil pengujian dengan GitLab.

Dengan menggabungkan Selenium dengan framework pengujian dan alat CI/CD, pengembang dan tester dapat meningkatkan kualitas, efisiensi, dan kecepatan proses pengujian aplikasi web. Selenium dapat membantu mengotomatisasi pengujian fungsional dan regresi aplikasi web, sementara framework pengujian dan alat CI/CD dapat membantu mengelola, menjalankan, dan melaporkan hasil pengujian secara terstruktur dan terus-menerus. Dengan demikian, Selenium dapat berkolaborasi dengan teknologi terbaru untuk menciptakan aplikasi web yang andal dan berkualitas.

Selenium Grid: Mengoptimalkan Skalabilitas dan Efisiensi Pengujian Otomatis Anda

7:43 AM Add Comment


Selenium Grid adalah salah satu fitur dari Selenium, sebuah framework pengujian otomatis yang populer digunakan untuk aplikasi web. Selenium Grid memungkinkan Anda untuk menjalankan tes secara paralel di berbagai mesin dan browser, sehingga Anda dapat menghemat waktu dan sumber daya. Dengan Selenium Grid, Anda dapat menguji aplikasi Anda di berbagai lingkungan dan skenario dengan lebih cepat dan efisien.

Berikut adalah beberapa manfaat dari menggunakan Selenium Grid:

  • Skalabilitas: Selenium Grid dapat menangani beban pengujian yang besar dengan mendistribusikan tes ke beberapa node yang terhubung ke hub. Anda dapat menambah atau mengurangi node sesuai dengan kebutuhan Anda tanpa mengubah konfigurasi tes Anda.
  • Keragaman: Selenium Grid mendukung berbagai browser, sistem operasi, dan versi yang berbeda. Anda dapat menguji aplikasi Anda di berbagai kombinasi platform dan browser untuk memastikan kompatibilitas dan konsistensi.
  • Fleksibilitas: Selenium Grid memberi Anda kontrol penuh atas eksekusi tes Anda. Anda dapat menentukan kriteria untuk memilih node yang sesuai untuk setiap tes, seperti browser, sistem operasi, atau kapasitas. Anda juga dapat mengelola prioritas, antrian, dan waktu tunggu tes Anda.
  • Integrasi: Selenium Grid dapat diintegrasikan dengan berbagai alat dan kerangka kerja pengujian lainnya, seperti TestNG, JUnit, Maven, Jenkins, dan lainnya. Anda dapat mengotomatisasi proses pengujian Anda dari awal hingga akhir dengan menggunakan alat-alat ini.

Untuk menggunakan Selenium Grid, Anda perlu menginstal dan menjalankan hub dan node. Hub adalah server pusat yang mengkoordinasikan eksekusi tes antara node. Node adalah mesin yang menjalankan tes di browser tertentu. Anda dapat memiliki satu atau lebih node yang terhubung ke hub. Anda juga perlu mengkonfigurasi tes Anda untuk berkomunikasi dengan hub menggunakan WebDriver API.

Berikut adalah langkah-langkah untuk mengatur dan menggunakan Selenium Grid:

  1. Unduh file jar Selenium Server dari situs web resmi Selenium1.
  2. Jalankan file jar sebagai hub dengan menggunakan perintah berikut di terminal:

java -jar selenium-server.jar hub

  1. Jalankan file jar sebagai node dengan menggunakan perintah berikut di terminal:

java -jar selenium-server.jar node -hub http://<hub_ip_address>:4444/grid/register

Anda dapat mengganti <hub_ip_address> dengan alamat IP hub Anda. Anda juga dapat menentukan parameter lain untuk node, seperti browser, sistem operasi, atau maksimum sesi.

  1. Buat kelas tes Anda dengan menggunakan bahasa pemrograman pilihan Anda, seperti Java, Python, C#, dan lainnya. Anda perlu menginisialisasi WebDriver dengan menggunakan RemoteWebDriver dan memberikan URL hub dan kemampuan yang diinginkan. Contoh kode Java:


import org.openqa.selenium.WebDriver;
import org.openqa.selenium.remote.DesiredCapabilities;
import org.openqa.selenium.remote.RemoteWebDriver;

import java.net.URL;

public class TestClass {

    public static void main(String[] args) throws Exception {

        // Define the hub URL
        String hubURL = "http://<hub_ip_address>:4444/wd/hub";

        // Define the desired capabilities
        DesiredCapabilities capabilities = new DesiredCapabilities();
        capabilities.setBrowserName("chrome");
        capabilities.setPlatform(Platform.WINDOWS);

        // Initialize the WebDriver with the hub URL and the desired capabilities
        WebDriver driver = new RemoteWebDriver(new URL(hubURL), capabilities);

        // Write your test steps here
        driver.get("https://www.google.com");
        // ...

        // Quit the driver
        driver.quit();
    }
}

  1. Jalankan kelas tes Anda dengan menggunakan alat atau kerangka kerja pengujian yang Anda gunakan, seperti TestNG, JUnit, Maven, Jenkins, dan lainnya. Hub akan menerima permintaan tes dari kelas Anda dan mengalokasikan node yang sesuai untuk menjalankan tes. Anda dapat melihat status dan hasil tes Anda di konsol hub atau di antarmuka web grid2.

Demikianlah artikel tentang Selenium Grid: Mengoptimalkan Skalabilitas dan Efisiensi Pengujian Otomatis Anda. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat membantu Anda dalam melakukan pengujian otomatis dengan lebih mudah dan efektif. Selamat mencoba!













Memahami Dasar-Dasar Selenium: Langkah-langkah Awal dalam Menerapkan Pengujian Otomatis

7:35 AM Add Comment
Selenium


Selenium adalah salah satu framework pengujian otomatis yang paling populer dan banyak digunakan untuk menguji aplikasi web. Selenium memungkinkan Anda untuk menulis skrip pengujian dalam berbagai bahasa pemrograman, seperti Java, Python, Ruby, dan lainnya, dan menjalankannya di berbagai browser web, seperti Chrome, Firefox, Edge, dan lainnya. Selenium juga mendukung berbagai alat dan teknik untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi pengujian, seperti Page Object Model, Data Driven Testing, Behavior Driven Testing, dan lainnya.

Dalam artikel ini, kita akan mempelajari dasar-dasar Selenium, seperti apa itu Selenium, apa saja komponen utamanya, bagaimana cara menginstal dan mengonfigurasinya, dan bagaimana cara menulis dan menjalankan skrip pengujian sederhana dengan Selenium WebDriver.

Apa itu Selenium?

Selenium adalah sebuah proyek open source yang bertujuan untuk menyediakan alat dan library untuk mengotomatisasi pengujian aplikasi web. Selenium terdiri dari beberapa komponen, yaitu:

  • Selenium IDE: Ini adalah sebuah plugin browser yang memungkinkan Anda untuk merekam dan memutar skrip pengujian dengan mudah dan cepat. Selenium IDE juga menyediakan fitur-fitur seperti debugging, editing, dan export skrip pengujian ke berbagai bahasa pemrograman.
  • Selenium WebDriver: Ini adalah inti dari Selenium, yang menyediakan API untuk berinteraksi dengan browser web dan mengontrol elemen web. Selenium WebDriver mendukung berbagai bahasa pemrograman dan browser web, dan memungkinkan Anda untuk menulis skrip pengujian yang lebih fleksibel, kuat, dan dapat diandalkan.
  • Selenium Grid: Ini adalah sebuah alat yang memungkinkan Anda untuk menjalankan skrip pengujian secara paralel di berbagai mesin dan browser web. Selenium Grid dapat meningkatkan kecepatan dan cakupan pengujian, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal.

Bagaimana Cara Menginstal dan Mengonfigurasi Selenium?

Untuk dapat menggunakan Selenium, Anda perlu menginstal dan mengonfigurasikan beberapa hal, yaitu:

  • Browser web: Anda perlu memiliki browser web yang ingin Anda uji, seperti Chrome, Firefox, Edge, dan lainnya. Anda juga perlu mengunduh dan menyimpan driver browser yang sesuai dengan versi browser Anda, seperti chromedriver, geckodriver, msedgedriver, dan lainnya. Driver browser ini bertindak sebagai perantara antara Selenium WebDriver dan browser web, dan memungkinkan WebDriver untuk mengirim perintah ke browser web.
  • Bahasa pemrograman: Anda perlu memiliki bahasa pemrograman yang ingin Anda gunakan untuk menulis skrip pengujian, seperti Java, Python, Ruby, dan lainnya. Anda juga perlu menginstal IDE atau editor teks yang sesuai dengan bahasa pemrograman Anda, seperti Eclipse, PyCharm, Visual Studio Code, dan lainnya.
  • Library Selenium: Anda perlu mengunduh dan menyertakan library Selenium yang sesuai dengan bahasa pemrograman Anda, seperti selenium-java, selenium-python, selenium-ruby, dan lainnya. Library Selenium ini menyediakan kelas, metode, dan antarmuka yang dapat Anda gunakan untuk berinteraksi dengan WebDriver dan elemen web.

Bagaimana Cara Menulis dan Menjalankan Skrip Pengujian dengan Selenium WebDriver?

Setelah Anda menginstal dan mengonfigurasi Selenium, Anda dapat mulai menulis dan menjalankan skrip pengujian dengan Selenium WebDriver. Berikut adalah langkah-langkah umum yang perlu Anda ikuti:

  • Impor library Selenium: Anda perlu mengimpor library Selenium yang Anda butuhkan untuk skrip pengujian Anda, seperti webdriver, by, expected_conditions, dan lainnya. Library Selenium ini akan membantu Anda untuk membuat objek WebDriver, menemukan elemen web, menunggu kondisi tertentu, dan lainnya.
  • Buat objek WebDriver: Anda perlu membuat objek WebDriver yang sesuai dengan browser web yang Anda gunakan, seperti Chrome, Firefox, Edge, dan lainnya. Objek WebDriver ini akan membuka browser web dan memungkinkan Anda untuk mengakses halaman web yang ingin Anda uji.
  • Tentukan URL halaman web: Anda perlu menentukan URL halaman web yang ingin Anda uji, dan menggunakan metode get() dari objek WebDriver untuk membuka halaman web tersebut di browser web.
  • Temukan elemen web: Anda perlu menemukan elemen web yang ingin Anda uji, seperti input, button, link, dan lainnya, dan menyimpannya sebagai objek WebElement. Anda dapat menggunakan berbagai metode find_element_by_* dari objek WebDriver untuk menemukan elemen web berdasarkan atributnya, seperti id, name, class, xpath, css selector, dan lainnya.
  • Operasikan elemen web: Anda perlu melakukan operasi pada elemen web yang Anda temukan, seperti mengisi input, mengklik button, mengambil teks, dan lainnya. Anda dapat menggunakan berbagai metode dan atribut dari objek WebElement untuk melakukan operasi ini, seperti send_keys(), click(), text, dan lainnya.
  • Tutup browser web: Anda perlu menutup browser web setelah Anda selesai melakukan pengujian, dan melepaskan sumber daya yang digunakan oleh objek WebDriver. Anda dapat menggunakan metode close() atau quit() dari objek WebDriver untuk melakukan ini.

Berikut adalah contoh skrip pengujian sederhana dengan Selenium WebDriver menggunakan bahasa pemrograman Python:

# Impor library Selenium

from selenium import webdriver

from selenium.webdriver.common.by import By

from selenium.webdriver.support.ui import WebDriverWait

from selenium.webdriver.support import expected_conditions as EC


# Buat objek WebDriver untuk browser Chrome

driver = webdriver.Chrome(executable_path="chromedriver.exe")


# Tentukan URL halaman web

url = "https://www.google.com"


# Buka halaman web di browser

driver.get(url)


# Temukan elemen input untuk pencarian

search_input = driver.find_element_by_name("q")


# Isi input dengan kata kunci "Selenium"

search_input.send_keys("Selenium")


# Temukan elemen button untuk pencarian

search_button = driver.find_element_by_name("btnK")


# Klik button untuk pencarian

search_button.click()


# Tunggu sampai elemen hasil pencarian muncul

results = WebDriverWait(driver, 10).until(

    EC.presence_of_element_located((By.ID, "search"))

)


# Ambil teks dari elemen hasil pencarian

results_text = results.text


# Cetak teks hasil pencarian

print(results_text)


# Tutup browser

driver.quit()


Skrip pengujian ini akan membuka browser Chrome, mengakses halaman web Google, mengisi input pencarian dengan kata kunci “Selenium”, mengklik button pencarian, menunggu sampai hasil pencarian muncul, mengambil teks hasil pencarian, mencetak teks hasil pencarian, dan menutup browser.

Kesimpulan

Selenium adalah framework pengujian otomatis yang sangat berguna dan populer untuk menguji aplikasi web. Selenium memiliki beberapa komponen, seperti Selenium IDE, Selenium WebDriver, dan Selenium Grid, yang dapat Anda gunakan sesuai dengan kebutuhan dan preferensi Anda. Selenium juga mendukung berbagai bahasa pemrograman dan browser web, yang memberikan Anda fleksibilitas dan kemudahan dalam menulis skrip pengujian. Untuk dapat menggunakan Selenium, Anda perlu menginstal dan mengonfigurasikan beberapa hal, seperti browser web, driver browser, bahasa pemrograman, library Selenium, dan IDE atau editor teks. Untuk menulis dan menjalankan skrip pengujian dengan Selenium WebDriver, Anda perlu mengikuti langkah-langkah umum, seperti mengimpor library Selenium, membuat objek WebDriver, menentukan URL halaman web, menemukan elemen web, mengoperasikan elemen web, dan menutup browser web.

Semoga artikel ini dapat membantu Anda memahami dasar-dasar Selenium dan langkah-langkah awal dalam menerapkan pengujian otomatis. Selamat mencoba dan semoga berhasil! 


Apa itu selenium ?

7:30 AM Add Comment
Logo Selenium

Selenium adalah sebuah alat pengujian otomatis untuk aplikasi web yang bersifat open source dan gratis. Selenium dapat digunakan untuk menguji aplikasi web pada berbagai browser dan platform, seperti Chrome, Firefox, Safari, Windows, Linux, dan lain-lain. Selenium juga mendukung berbagai bahasa pemrograman, seperti Java, Python, C#, Ruby, dan lain-lain. Selenium memiliki beberapa komponen, antara lain:

  • Selenium IDE, sebuah plugin untuk browser yang memungkinkan pengguna untuk merekam dan memutar skenario pengujian secara mudah dan cepat.
  • Selenium WebDriver, sebuah API yang memungkinkan pengguna untuk mengontrol browser secara langsung dari kode program. WebDriver juga dapat berinteraksi dengan elemen web, seperti klik, input, drag, dan lain-lain.
  • Selenium Grid, sebuah alat yang memungkinkan pengguna untuk menjalankan pengujian secara paralel pada banyak mesin dan browser secara terdistribusi.

Selenium memiliki banyak kelebihan, antara lain:

  • Selenium adalah alat open source dan gratis, sehingga pengguna dapat mengunduh, mengubah, dan menyesuaikan sesuai kebutuhan.
  • Selenium dapat digunakan untuk menguji aplikasi web yang kompleks dan dinamis, yang sulit dilakukan dengan alat pengujian manual.
  • Selenium dapat diintegrasikan dengan berbagai alat dan framework pengembangan, seperti Maven, TestNG, JUnit, Jenkins, Cucumber, dan lain-lain.
  • Selenium dapat meningkatkan kualitas, efisiensi, dan kecepatan pengujian, serta mengurangi biaya dan risiko kesalahan.

Demikian artikel singkat tentang apa itu selenium. Semoga bermanfaat.


 



Memahami Fungsi dan Formula Lanjutan dalam Google Sheets

7:24 AM Add Comment
Google Sheets

Google Sheets adalah aplikasi spreadsheet online yang dapat digunakan untuk mengolah data, melakukan perhitungan, membuat grafik, dan berbagai keperluan lainnya. Google Sheets memiliki banyak fungsi dan formula yang dapat membantu kita dalam mengerjakan berbagai tugas, baik yang sederhana maupun yang kompleks.

Fungsi adalah perintah yang digunakan untuk menghitung nilai, menganalisis data, atau melakukan operasi tertentu. Formula adalah ekspresi yang menggabungkan fungsi, operator, sel, dan nilai untuk menghasilkan hasil yang diinginkan. Dalam Google Sheets, kita dapat memasukkan fungsi dan formula di dalam sel dengan menggunakan tanda sama dengan (=) di awal.

Google Sheets memiliki berbagai kategori fungsi, seperti fungsi tanggal, fungsi statistik, fungsi logika, fungsi teks, dan sebagainya. Kita dapat memilih fungsi yang sesuai dengan kebutuhan kita dari daftar fungsi yang tersedia di menu Fungsi, atau dengan mengetikkan nama fungsi secara langsung di dalam sel. Setiap fungsi memiliki sintaks atau aturan penulisan yang harus diikuti, yaitu nama fungsi diikuti oleh tanda kurung yang berisi argumen atau parameter yang dibutuhkan oleh fungsi tersebut.

Beberapa fungsi yang sering digunakan dalam Google Sheets adalah:

- SUM: untuk menjumlahkan nilai dari rentang sel atau daftar nilai. Contoh: =SUM(A1:A10) atau =SUM(1,2,3,4,5)
- AVERAGE: untuk menghitung rata-rata nilai dari rentang sel atau daftar nilai. Contoh: =AVERAGE(B1:B10) atau =AVERAGE(10,20,30,40,50)
- MIN: untuk mencari nilai terkecil dari rentang sel atau daftar nilai. Contoh: =MIN(C1:C10) atau =MIN(100,200,300,400,500)
- MAX: untuk mencari nilai terbesar dari rentang sel atau daftar nilai. Contoh: =MAX(D1:D10) atau =MAX(1000,2000,3000,4000,5000)
- COUNT: untuk menghitung jumlah sel yang berisi nilai numerik dari rentang sel atau daftar nilai. Contoh: =COUNT(E1:E10) atau =COUNT(1,2,3,4,5)
- IF: untuk melakukan pengujian logika dan mengembalikan nilai yang berbeda tergantung pada hasil pengujian tersebut. Contoh: =IF(F1>10,"Lulus","Tidak Lulus") atau =IF(G1="Ya",100,0)
- VLOOKUP: untuk mencari nilai dalam sebuah tabel berdasarkan nilai kunci yang diberikan. Contoh: =VLOOKUP(H1,I1:J10,2,FALSE) atau =VLOOKUP("Jakarta",A1:B10,2,TRUE)
- CONCATENATE: untuk menggabungkan teks dari beberapa sel atau nilai menjadi satu teks. Contoh: =CONCATENATE(K1," ",L1) atau =CONCATENATE("Selamat"," ","Datang")
- LEFT: untuk mengambil sejumlah karakter dari sebelah kiri sebuah teks. Contoh: =LEFT(M1,3) atau =LEFT("Indonesia",5)
- RIGHT: untuk mengambil sejumlah karakter dari sebelah kanan sebuah teks. Contoh: =RIGHT(N1,4) atau =RIGHT("Indonesia",4)
- MID: untuk mengambil sejumlah karakter dari sebuah teks mulai dari posisi tertentu. Contoh: =MID(O1,2,3) atau =MID("Indonesia",3,4)

Selain fungsi-fungsi di atas, masih banyak fungsi lain yang dapat kita gunakan dalam Google Sheets. Kita dapat mempelajari lebih lanjut tentang fungsi dan formula dalam Google Sheets dengan membaca dokumentasi resmi dari Google[^1^][1] [^2^][2] [^3^][3] [^4^][4] atau dengan mencari sumber belajar lain di internet.

Dengan menguasai fungsi dan formula lanjutan dalam Google Sheets, kita dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja kita, serta memanfaatkan data dengan lebih optimal. Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat mencoba!

Pengenalan Gitlab : Pengertian, Sejarah, Kelebihan dan Kekurangan

7:48 AM Add Comment
GitLab


Apa Itu GitLab?

GitLab adalah sebuah platform yang memungkinkan Anda untuk mengelola repositori Git, yaitu tempat penyimpanan kode sumber yang dapat dilacak perubahannya. GitLab menawarkan berbagai fitur yang membantu Anda dalam pengembangan perangkat lunak, seperti pelacakan masalah, wiki, integrasi berkelanjutan, dan lain-lain. GitLab juga memiliki sifat sumber terbuka, yang berarti Anda dapat melihat, mengubah, dan mendistribusikan kode sumber GitLab sesuai dengan lisensi yang digunakan.


Sejarah GitLab

GitLab pertama kali dibuat oleh Dmitriy Zaporozhets dan Valery Sizov dari Ukraina pada tahun 2011. Mereka mengembangkan GitLab sebagai alternatif dari GitHub, sebuah layanan populer yang juga menyediakan akses remote ke repositori Git. Namun, GitHub memiliki beberapa keterbatasan, seperti tidak menyediakan repositori pribadi secara gratis, dan tidak dapat diinstal di server sendiri.

Pada tahun 2013, GitLab mulai membagi produknya menjadi dua versi, yaitu GitLab Community Edition (CE) dan GitLab Enterprise Edition (EE). GitLab CE adalah versi gratis yang dapat digunakan oleh siapa saja, sedangkan GitLab EE adalah versi berbayar yang memiliki fitur tambahan untuk organisasi besar. Pada tahun yang sama, GitLab mendapatkan pendanaan awal sebesar 1,5 juta dolar AS dari investor.

Sejak itu, GitLab terus berkembang dan mendapatkan banyak pengguna dan kontributor dari seluruh dunia. Beberapa perusahaan dan organisasi ternama yang menggunakan GitLab antara lain adalah NASA, IBM, Sony, NVIDIA, The Walt Disney Company, Siemens, dan lain-lain. GitLab juga mengakuisisi beberapa perusahaan dan produk lain yang berkaitan dengan Git, seperti Gitorious, Gitter, Mattermost, dan lain-lain.

Baca juga Apa Itu GitHub? Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya bagi Developer


Kelebihan dan Kekurangan GitLab

GitLab memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yang dapat Anda pertimbangkan sebelum memilihnya sebagai platform pengembangan perangkat lunak Anda. Berikut adalah beberapa di antaranya:


Kelebihan GitLab

  • GitLab menyediakan repositori pribadi dan publik tanpa batas secara gratis, sehingga Anda dapat menyimpan kode sumber Anda dengan aman dan mudah.
  • GitLab memiliki antarmuka web yang ramah pengguna dan mudah digunakan, yang mempercepat kerja Anda dengan Git.
  • GitLab memiliki fitur integrasi berkelanjutan (CI) yang terintegrasi dengan GitLab, yang memungkinkan Anda untuk melakukan pengujian, penyebaran, dan pemantauan kode sumber Anda secara otomatis.
  • GitLab memiliki fitur wiki yang memudahkan Anda untuk membuat dan mengelola dokumentasi proyek Anda.
  • GitLab memiliki fitur pelacakan masalah yang memungkinkan Anda untuk melaporkan, mengelola, dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan proyek Anda.
  • GitLab memiliki fitur sosial yang memungkinkan Anda untuk berkolaborasi dengan pengguna dan kontributor lain, seperti komentar, suka, bintang, cabang, dan lain-lain.

Kekurangan GitLab

  • GitLab membutuhkan koneksi internet atau jaringan LAN untuk dapat mengakses repositori Git yang di-hosting di GitLab, sehingga Anda tidak dapat bekerja secara offline.
  • GitLab tidak secepat GitHub dalam hal mendorong dan menarik repositori, karena GitLab memiliki lebih banyak fitur yang membutuhkan sumber daya.
  • GitLab memiliki antarmuka web yang terkadang lambat saat berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya, karena GitLab memiliki banyak fitur yang perlu dimuat.
  • GitLab memiliki kurva belajar yang cukup tinggi, terutama bagi pengguna yang belum terbiasa dengan Git dan fitur-fitur GitLab.

Kesimpulan

GitLab adalah sebuah platform yang memungkinkan Anda untuk mengelola repositori Git dan fitur-fitur lain yang membantu Anda dalam pengembangan perangkat lunak. GitLab memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat Anda pertimbangkan sebelum memilihnya sebagai platform pengembangan perangkat lunak Anda. GitLab adalah pilihan yang baik bagi Anda yang ingin memiliki kontrol penuh atas kode sumber Anda dan berkolaborasi dengan pengguna dan kontributor lain. 

Membuat Grafik Dinamis dengan Mudah Menggunakan Google Sheets

7:22 AM Add Comment
Google Sheets

Google Sheets adalah aplikasi spreadsheet online yang dapat digunakan untuk menyimpan, mengolah, dan menganalisis data. Salah satu fitur yang berguna dari Google Sheets adalah kemampuan untuk membuat grafik atau diagram dari data yang ada. Grafik dapat membantu Anda memvisualisasikan dan mempresentasikan data dengan lebih menarik dan informatif.

Namun, bagaimana jika Anda ingin membuat grafik yang dapat berubah-ubah sesuai dengan data yang Anda masukkan atau pilih? Misalnya, Anda ingin membuat grafik yang menampilkan penjualan produk Anda berdasarkan bulan, tahun, atau kategori tertentu. Apakah Anda harus membuat grafik baru setiap kali Anda ingin melihat data yang berbeda?

Tentu saja tidak. Anda dapat membuat grafik dinamis di Google Sheets dengan menggunakan fitur bernama tabel pivot dan slicer. Tabel pivot adalah tabel interaktif yang menampilkan ringkasan data yang ada, sehingga dengan penggunaannya dapat mempermudah memahami data1. Slicer adalah alat filter yang dapat digunakan untuk memilih data tertentu yang ingin ditampilkan di tabel pivot atau grafik2.

Dengan menggunakan tabel pivot dan slicer, Anda dapat membuat grafik dinamis yang dapat disesuaikan dengan data yang Anda inginkan. Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat grafik dinamis di Google Sheets:

Langkah 1: Siapkan Data Anda

Sebelum membuat grafik dinamis, Anda harus memiliki data yang lengkap dan terstruktur di Google Sheets. Data Anda harus memiliki judul kolom yang jelas dan tidak ada sel kosong. Misalnya, Anda memiliki data penjualan produk seperti berikut:

 

Langkah 2: Buat Tabel Pivot dari Data Anda

Setelah data Anda siap, Anda dapat membuat tabel pivot dari data Anda dengan cara berikut:

  • Pilih seluruh data Anda, termasuk judul kolom.
  • Klik menu Data, lalu pilih Pivot table.
  • Pada jendela yang muncul, pilih New sheet, lalu klik Create.
  • Anda akan dibawa ke lembar baru yang berisi tabel pivot kosong.

Langkah 3: Atur Tabel Pivot Anda

Untuk mengatur tabel pivot Anda, Anda harus menentukan data apa yang ingin Anda tampilkan di baris, kolom, dan nilai tabel pivot. Anda dapat melakukannya dengan cara berikut:

  • Di sebelah kanan tabel pivot, Anda akan melihat panel Pivot table editor.
  • Di bawah Rows, klik Add, lalu pilih kolom yang ingin Anda tampilkan di baris tabel pivot. Misalnya, Anda ingin menampilkan nama produk, maka pilih Produk.
  • Di bawah Columns, klik Add, lalu pilih kolom yang ingin Anda tampilkan di kolom tabel pivot. Misalnya, Anda ingin menampilkan bulan penjualan, maka pilih Bulan.
  • Di bawah Values, klik Add, lalu pilih kolom yang ingin Anda tampilkan sebagai nilai tabel pivot. Misalnya, Anda ingin menampilkan jumlah penjualan, maka pilih Jumlah.
  • Anda dapat mengubah cara perhitungan nilai tabel pivot dengan mengklik dropdown di sebelah nama kolom nilai, lalu pilih opsi yang Anda inginkan. Misalnya, Anda ingin menampilkan rata-rata penjualan, maka pilih AVERAGE.

Setelah Anda mengatur tabel pivot Anda, Anda akan melihat tabel pivot yang berisi data yang Anda pilih. Misalnya, tabel pivot Anda akan terlihat seperti ini:

 

Langkah 4: Buat Grafik dari Tabel Pivot Anda

Setelah Anda membuat tabel pivot, Anda dapat membuat grafik dari tabel pivot Anda dengan cara berikut:

  • Pilih seluruh tabel pivot Anda, termasuk judul baris dan kolom.
  • Klik menu Insert, lalu pilih Chart.
  • Anda akan melihat grafik bawaan yang dibuat berdasarkan tabel pivot Anda. Anda dapat mengubah jenis, warna, ukuran, dan opsi lainnya dari grafik Anda dengan mengklik tab Customize di panel Chart editor di sebelah kanan grafik.
  • Anda dapat memindahkan grafik Anda ke lokasi yang Anda inginkan dengan menyeret grafik tersebut. Anda juga dapat mengubah ukuran grafik Anda dengan menyeret sudut grafik tersebut.

Setelah Anda membuat grafik dari tabel pivot Anda, Anda akan melihat grafik yang menampilkan data dari tabel pivot Anda. Misalnya, grafik Anda akan terlihat seperti ini:

 

Langkah 5: Tambahkan Slicer ke Grafik Anda

Untuk membuat grafik Anda menjadi dinamis, Anda dapat menambahkan slicer ke grafik Anda. Slicer adalah alat filter yang dapat digunakan untuk memilih data tertentu yang ingin ditampilkan di grafik Anda. Anda dapat menambahkan slicer ke grafik Anda dengan cara berikut:

  • Klik menu Data, lalu pilih Slicer.
  • Anda akan melihat slicer kosong yang muncul di lembar Anda. Anda dapat memindahkan dan mengubah ukuran slicer tersebut dengan menyeretnya.
  • Di sebelah kanan slicer, Anda akan melihat panel Slicer editor. Di bawah Data range, klik dropdown, lalu pilih data yang ingin Anda gunakan sebagai sumber slicer. Misalnya, Anda ingin menggunakan data penjualan produk, maka pilih Sheet1!A1:E101.
  • Di bawah Filter by condition, klik dropdown, lalu pilih kolom yang ingin Anda gunakan sebagai filter slicer. Misalnya, Anda ingin menggunakan tahun penjualan sebagai filter, maka pilih Tahun.
  • Anda akan melihat daftar nilai yang ada di kolom yang Anda pilih. Anda dapat memilih nilai yang ingin Anda tampilkan di grafik Anda dengan mencentang kotak di sebelah nilai tersebut. Misalnya, Anda ingin menampilkan data penjualan produk pada tahun 2023, maka centang kotak di sebelah 2023.

Setelah Anda menambahkan slicer ke grafik Anda, Anda akan melihat slicer yang berisi nilai yang Anda pilih. Anda juga akan melihat grafik Anda berubah sesuai dengan nilai yang Anda pilih di slicer. Misalnya, slicer dan grafik Anda akan terlihat seperti ini:

 

Langkah 6: Uji Coba Grafik Dinamis Anda

Untuk menguji coba grafik dinamis Anda, Anda dapat mencoba mengubah nilai yang Anda pilih di slicer. Anda akan melihat grafik Anda berubah sesuai dengan nilai yang Anda pilih. Misalnya, jika Anda ingin menampilkan data penjualan produk pada tahun 2024, Anda dapat mencentang kotak di sebelah 2024 di slicer. Grafik Anda akan berubah menjadi seperti ini:

 

Anda juga dapat menambahkan lebih dari satu slicer ke grafik Anda dengan mengulangi langkah-langkah di atas. Misalnya, Anda dapat menambahkan slicer untuk kategori produk, sehingga Anda dapat memilih data penjualan produk berdasarkan kategori tertentu. Grafik Anda akan berubah sesuai dengan nilai yang Anda pilih di kedua slicer. Misalnya, jika Anda ingin menampilkan data penjualan produk kategori A pada tahun 2024, Anda dapat mencentang kotak di sebelah A dan 2024 di slicer. Grafik Anda akan berubah menjadi seperti ini:

 

Kesimpulan

Dengan menggunakan tabel pivot dan slicer, Anda dapat membuat grafik dinamis di Google Sheets dengan mudah. Grafik dinamis dapat membantu Anda memvisualisasikan dan mempresentasikan data dengan lebih fleksibel dan interaktif. Anda dapat menyesuaikan grafik Anda dengan data yang Anda inginkan dengan hanya mengklik slicer. Anda juga dapat mengubah jenis, warna, ukuran, dan opsi lainnya dari grafik Anda dengan mengklik tab Customize. Dengan demikian, Anda dapat membuat grafik yang menarik dan informatif di Google Sheets.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Jika Anda memiliki pertanyaan atau masukan, silakan tinggalkan komentar di bawah. Terima kasih telah membaca.

Panduan Lengkap Menggunakan Google Sheets untuk Analisis Data

7:20 AM Add Comment
Google Sheets


Sebagai seorang yang tertarik dalam analisis data, menggunakan Google Sheets bisa menjadi langkah yang cerdas. Google Sheets adalah aplikasi spreadsheet berbasis cloud yang memungkinkan kita untuk melakukan analisis data secara online melalui web browser tanpa perlu instalasi atau pembelian lisensi produk1. Berikut adalah panduan lengkap untuk memulai menggunakan Google Sheets untuk analisis data:

  1. Dasar-dasar Google Sheets:

  2. Fitur-fitur Google Sheets:

  3. Analisis Data dengan Google Sheets:

    • Import Data: Pelajari cara mengimpor data menggunakan Import HTML dan Import Range.
    • Pembersihan Data (Data Cleaning): Hapus data duplikat, perbaiki format, dan bersihkan data mentah.
    • Pengoperasian SQL Function: Gunakan fungsi SQL untuk mengolah data.
    • Penggabungan Tabel: Gabungkan data dari berbagai sumber.
    • Fungsi Pivot Table: Buat ringkasan data dengan pivot table2.
  4. Add-Ons untuk Google Sheets:

    • Beberapa add-ons dapat memperluas fungsionalitas Google Sheets, seperti Solver untuk optimisasi dan Data Analysis Toolpak untuk analisis statistik.
  5. Sumber Belajar Google Sheets:

Semoga panduan ini membantu Anda memanfaatkan Google Sheets secara efektif dalam analisis data Anda!

Cara Menandatangani Dokumen PDF Secara Digital

7:18 AM Add Comment

Signature PDF

 Cara Menandatangani Dokumen PDF Secara Digital

Menandatangani dokumen PDF secara digital memudahkan kita dalam berbagai situasi, termasuk mengurangi penggunaan kertas dan mempercepat proses bisnis. Berikut adalah beberapa metode untuk menambahkan tanda tangan digital ke dokumen PDF:

  1. Menggunakan Adobe Reader pada Komputer Windows atau Mac:

  2. Menggunakan Preview pada Komputer Mac:

  3. Menggunakan Alat eSign Smallpdf (Secara Online):

Ingatlah bahwa tanda tangan digital harus mematuhi standar keamanan dan legalitas. Dengan menggunakan metode di atas, Anda dapat menandatangani dokumen PDF dengan mudah dan efisien. Semoga bermanfaat!




Mengenal piramidaTesting, Apa sih ? keuntungan dan cara implementasinya ?

2:06 AM Add Comment
Piramida Testing


1. Apa itu Piramida Testing ?

Piramida testing adalah sebuah konsep yang mengelompokkan tes perangkat lunak menjadi tiga kategori utama: unit, integrasi, dan UI (atau e2e tests). Konsep ini membantu pengembang dan profesional QA untuk memastikan kualitas yang lebih tinggi, mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menemukan akar penyebab bug, dan membangun rangkaian tes yang lebih andal.


Berikut adalah penjelasan singkat tentang masing-masing kategori tes dalam piramida testing:

  • Unit tests adalah tes yang memeriksa fungsi atau metode tertentu dalam kode sumber. Unit tests biasanya berfokus pada logika bisnis dan algoritma, dan tidak bergantung pada komponen eksternal seperti database atau API. Unit tests harus menjadi bagian terbesar dari piramida testing, karena mereka cepat, murah, dan mudah dipelihara.
  • Integration tests adalah tes yang memeriksa interaksi antara beberapa komponen atau sistem, seperti layanan, database, atau antarmuka. Integration tests biasanya lebih lambat, lebih mahal, dan lebih sulit dipelihara daripada unit tests, tetapi mereka dapat menemukan bug yang tidak terdeteksi oleh unit tests. Integration tests harus menjadi bagian menengah dari piramida testing, karena mereka memberikan cakupan yang lebih luas dan lebih realistis dari perilaku aplikasi.
  • UI tests atau e2e tests adalah tes yang memeriksa fungsi aplikasi dari sudut pandang pengguna akhir, biasanya dengan menggunakan alat otomatisasi seperti Selenium atau Appium. UI tests atau e2e tests biasanya paling lambat, paling mahal, dan paling rapuh daripada tes lainnya, tetapi mereka dapat menemukan bug yang mempengaruhi pengalaman pengguna secara langsung. UI tests atau e2e tests harus menjadi bagian terkecil dari piramida testing, karena mereka membutuhkan sumber daya yang lebih banyak dan lebih rentan terhadap perubahan.

Piramida testing adalah sebuah pedoman yang dapat membantu tim pengembang aplikasi untuk merancang dan melaksanakan strategi tes yang efektif dan efisien. Dengan mengikuti piramida testing, tim dapat mengurangi biaya, meningkatkan kecepatan, dan meningkatkan kualitas produk perangkat lunak mereka.

Baca juga Praktik Terbaik DevOps: Menuju Efisiensi dan Ketangguhan yang Lebih Baik

 

2. Keuntungan mengimplementasikan Piramida Testing

Piramida testing memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

Efisiensi: Karena dasar piramida terdiri dari unit tests, yang dapat dilakukan dengan cepat dan murah, tim dapat mencapai cakupan yang banyak dengan sumber daya yang minimal. Ini membuat proses testing menjadi lebih efisien.

Umpan balik yang lebih cepat: Unit tests dan integration tests, yang merupakan sebagian besar dari piramida testing, dapat dijalankan dengan cepat. Ini memungkinkan tim untuk mendapatkan umpan balik yang lebih cepat tentang kualitas kode dan fungsionalitas aplikasi.

Kualitas yang lebih tinggi: Dengan mengikuti piramida testing, tim dapat mengurangi risiko bug, kesalahan, dan ketidaksesuaian yang dapat mempengaruhi pengalaman pengguna dan kinerja aplikasi. Piramida testing juga membantu tim untuk memastikan bahwa setiap lapisan aplikasi telah diuji secara menyeluruh dan konsisten.


3. Bagaimana cara mengimplementasikan Piramida Testing

Untuk mengimplementasikan piramida testing pada proyek Anda, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

  • Tentukan tujuan dan lingkup dari tes perangkat lunak Anda. Apa yang ingin Anda capai dengan tes? Apa yang ingin Anda uji? Apa yang tidak ingin Anda uji?
  • Pilih alat dan kerangka kerja yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Anda dapat menggunakan berbagai alat dan kerangka kerja untuk menulis dan menjalankan tes perangkat lunak, seperti JUnit, TestNG, Selenium, Appium, Cucumber, dan lain-lain. Pastikan Anda memilih alat yang kompatibel dengan bahasa pemrograman, platform, dan arsitektur aplikasi Anda.
  • Mulailah dengan menulis unit tests untuk setiap komponen atau fungsi dalam kode sumber Anda. Pastikan Anda menutupi semua skenario yang mungkin, termasuk jalur bahagia, penanganan kesalahan, dan kasus batas. Jalankan unit tests secara teratur dan perbaiki bug yang ditemukan.
  • Lanjutkan dengan menulis integration tests untuk menguji interaksi antara komponen atau sistem yang berbeda. Pastikan Anda menyiapkan lingkungan tes yang sesuai, seperti database, API, atau layanan eksternal. Jalankan integration tests setelah Anda yakin bahwa unit tests telah berhasil. Perbaiki bug yang ditemukan.
  • Terakhir, tulis UI tests atau e2e tests untuk menguji fungsi aplikasi dari sudut pandang pengguna akhir. Pastikan Anda meniru perilaku pengguna yang realistis, seperti klik, geser, ketik, dan lain-lain. Jalankan UI tests atau e2e tests setelah Anda yakin bahwa integration tests telah berhasil. Perbaiki bug yang ditemukan.
  • Evaluasi dan perbaiki rangkaian tes Anda secara berkala. Pastikan Anda menghapus tes yang tidak relevan, duplikat, atau usang. Pastikan Anda menambahkan tes baru untuk fitur baru atau perubahan yang dibuat. Pastikan Anda menjaga keseimbangan antara kuantitas dan kualitas tes Anda.